CINTA BERSAMA ALLAH
4
Hari sabtu adalah hari libur
kuliahku, mengingat kata-kata Ummi bahwa beliau meridhaiku untuk mencari nafkah
sendiri, pagi ini aku berjalan ke kedai-kedai atau kafetaria dekat dekat tempat
kostku. Mataku tertuju pada kafetaria yang biasa aku kunjungi, aku masuk dan
bertemu dengan bibi pelayan yang suka melayaniku.
“Bi,
punten, ka deui aya lowongan teu ?” Tanyaku pada beliau.
“Bibi
mah saorangan wae neng, ari si eneng mau bantuin mah silahkeun, gaji na mah teu
loba” sahut Beliau.
“Alhamdulillah,
enjing tiasa mulai teu, bi ?” tanyaku penuh semangat.
“Atuh
iya neng” Sahut wanita paruh baya itu sambih mengembangkan senyumnya.
Aku
menghabiskan coffee late yang aku pesan tadi dan segera kembali ke tempat kost
untuk bersiap mengembalikan buku perpustakaan
Aku menjalani hari ini begitu bahagia,
Mba Fatma dan Halimah pun menjadi sasaran senyum manisku hari ini.
“Hayooo
ada yang seneng ini” Celetuk Mba Fatma meledek.
“Iyo
mba, ga cerita-cerita lagi nih” Sahut Halimah segera.
“Hehe,
ngomngin aku toh ?” Sahutku lugu.
“Ya
iya adik manis, mumpung lagi ada di depannya, dari pada udah di belakangnya
nanti dosa nih” Sahut Mba Fatma yang sudah tertular senyumku.
“Ah
Mba bisa aja, aku dapet kerja paruh waktu Alhamdulillah buat bantu-bantu Ummi”
Jelasku dengan senyum yang sedikit mengkerut.
“Ohiya
Ra, jadi kan balikin buku ke perpustakaan Hari ini ?” Celetuk Halimah
tiba-tiba.
“Jadi
dong, makanya aku agak buru-buru biar gak kesiangan” Sahutku.
Aku mengembalikan buku perpustakaan
hari ini. Jika aku mulai pekerjaan paruh
waktuku, pasti tak sempat lagi aku membaca ria di tempat ini. Semoga waktu
mempertemukan kembali dengan perpustakaan ini. Seperti biasa aku selalu
meminjam kembali buku untuk bacaan ringanku karena aku tidak bisa mengunjungi
tempat ini lagi bukan berarti aku berhenti membaca.
“Ra,
berarti kalo kamu kerja paruh waktu ga bisa mampir lagi dong ke sini” Celetuk
Halimah.
“Iya
Mah jadi kangen aku nanti baca buku di sini.” Gumamku.
Aku
menghabiskan 2 jam untuk membaca dan memilah-milah buku, aku meminjam 5 buku
untuk 5 hari ku baca, Halimah sampai tercengang karena aku meminjam buku
sebanyak ini, aku hanya tertawa kecil melihatnya.
Setelah aku registrasi peminjaman
buku aku segera menuju masjid, karena Azan Dzuhur telah berkumandang. Aku
mengambil wudhu kemudian menyegerakan sholat bersama Halimah. Setelah aku
sholat terlihat dua orang wanita tengah berbincang dengan suara yang agak kuat
dan tegas.
“Ngapain
lu sholat, kerudung aja jarang dipake, buat apa ? percuma” Bentak seorang gadis
yang memakai jilbab ungu.
“Ya
kan gua orang islam, emang salah kalo gua mau kerudungin hati dulu baru kepala
gua ?” Sahut gadis dengan rambut ikal yang menjuntai sebahu.
“Kerudungin
hati apaan, mana bisa ?” Sahut gadis berkerudung ungu.
“Ya
daripada, Si Dinda pake kerudung tapi masih aja tuh malemnya ke klub malam”
Bentak gadis berambut sepundak.
Mereka
terus saja meributkan hijab bahkan menggibahkan temannya dan mengkambing
hitamkan hijab pula. Aku dan Halimah sangat risih mendengarnya saat kami tengah
berdoa, membuat doa kami tidak khusyuk.
Sekian menit mereka bertengkar dan
sekarang wanita yang tidak memakai kerudung menarik kerudung temannya, Aku
langsung menghampiri dan menegur dengan teguran lembut.
“Assalamualaikum,
ukhti ada apa ini ribut-ribut ?” Tanyaku.
“Nih,
orang ini, orang sholat malah di larang, bukannya pake kerudung atau belum
boleh-boleh aja kan sholat?” Sahut wanita tanpa kerudung itu.
“Afwan,
bukannya saya menggurui anti sekalian,
boleh kok, sholat walaupun belum memakai hijab, asalkan saat sholat anti
memakai mukena” Sahutku.
“Tapi
masa dia mau jilbabin hati dulu baru jilbabin kepala, emang bisa?” Tanya wanita itu sambil membenarkan kerudung
ungunya.
“Setau
saya tidak ada tuh menghijabkan hati, memangnya anti mau operasi dulu terus
hatinya di kasih hijab ? hehe, Seaandainya anti memakai hijab tentu anti
memiliki batas prilaku kan, Jadi ngga perlu toh hijabin hati dulu, seandainya
anti berhijab, perubahan itu akan datang dengan sendirinya” Jelasku.
Wanita
tanpa hijab itu terdiam sejenak. Dan wanita dengan kerudung ungu itu tersenyum
puas.
“Tapi kan ada juga yang berhijab eh
tapi kelakuannya masih aja brandal, percuma kan pake hijab, terus juga hijabnya
di copot pakai begitu” Tanya Wanita tanpa hijab itu.
“Bismillah,
kalau prilakunya masih berandal ya jangan salahkan hijabnya, salahkan
prilakunya, kalau hijabnya di copot pakai begitu ya doakan saja yang baik-baik
bukan malah di gibahkan, bahkan itu lebih baik daripada yang tidak pakai sama
sekali” Sahutku.
“Berarti
yang pakai hijab copot pakai itu baik juga ?” Tanya Wanita dengan jilbab ungu
itu.
“Bukan
begitu maksud Ana, seandainya uang bulanan anti hanya di beri setengah oleh
orang tua anti, sikap anti akan bagaimana ?” Tanyaku.
“Jelas
gue marah lah, ya gila aja, apa-apa mahal kali, ga niat apa nguliahin anak?”
Sahut gadis itu.
“Nah,
seperti itu, Allah pun ga suka sama yang setengah-setengah, apa anti ga niat
berhijab ? Anti mendapat pahala dengan mengenakan hijab dan berdosa karena
melepas hijab” Jelasku.
Wanita
itu terdiam, mendengar kata-kataku.
“Tapi
saya belum siap untuk berhijab” Sahut wanita yang tak berhijab.
“Kapan
anti siap? Apakah kematian datang setelah anti siap ?” Sahutku.
Kedua
wanita itu diam terpaku menatap alas masjid ini. Aku pun terdiam sejenak lalu
mengucapkan salam kemudian pergi bersama Halimah.
Aku akhirnya kembali ke kamarku, ku
dapatkan Ummi Aminah duduk di kasurku sembari membaca majalah untuk ibu-ibu.
“Assalamualaikum
Ummi Aminah, tumben berkunjung” Sapaku.
“Waalaikumsalam
Aira, bagaimana kuliahmu ? lancar ?” Tanya beliau yang aku yakini sebagai
basa-basi.
“Alhamdulillah
Ummi, ada apa ya ?” Tanyaku.
“Anu
nak, Maaf sekali sebelumnya, Ummi mau menagih uang sewa mu” Jelas beliau.
Aku
terdiam terpaku pada lantai kamarku, Terngiang ucapan Ummi yang mengatakan
bahwa Abi telah di PHK dan uang kuliah hanya tersisa untuk satu semester
kedepan, aku tersadar bahwa kafetaria tidak akan mencukupi keuanganku. Aku
mendongak dan menghadapkan wajahku pada Ummi Aminah.
“Akan
Aira tanya sama Ummi, Insya Allah segera Aira bayar” Sahutku.
“Baik,
terima kasih Aira, maafkan Ummi ya” Celetuk Ummi Aminah yang merasa bersalah
terhadapku.
Dengan
berat hati aku menelfon Ummi ku, terdengar suara beliau yang begitu lembut dan
tegar. Aku semakin tak tega untuk bilang padanya, untuk bulan ini biar Ummi
yang biayai, bulan depan harus aku yang bayar. Aku menjelaskan apa yang Ummi
Aminah tadi katakan, kemudian Beliau dengan segera mengirimkan uang sewanya. Tak lama telfon ku berdering,
tertulis disana Hasan Abdullah. Apa aku tak usah angkat ?
Alhamdulillah, bisa upload lagii, maaf yaaa pembaca aku baru sellesai ukk hiks.. hiks.. Insya Allah segera ending >.< Wassalamualaikum ^-^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar