Minggu, 29 Mei 2016

CINTA BERSAMA ALLAH EPS 4

CINTA BERSAMA ALLAH 
4


            Hari sabtu adalah hari libur kuliahku, mengingat kata-kata Ummi bahwa beliau meridhaiku untuk mencari nafkah sendiri, pagi ini aku berjalan ke kedai-kedai atau kafetaria dekat dekat tempat kostku. Mataku tertuju pada kafetaria yang biasa aku kunjungi, aku masuk dan bertemu dengan bibi pelayan yang suka melayaniku.
“Bi, punten, ka deui aya lowongan teu ?” Tanyaku pada beliau.
“Bibi mah saorangan wae neng, ari si eneng mau bantuin mah silahkeun, gaji na mah teu loba” sahut Beliau.
“Alhamdulillah, enjing tiasa mulai teu, bi ?” tanyaku penuh semangat.
“Atuh iya neng” Sahut wanita paruh baya itu sambih mengembangkan senyumnya.
Aku menghabiskan coffee late yang aku pesan tadi dan segera kembali ke tempat kost untuk bersiap mengembalikan buku perpustakaan
Aku menjalani hari ini begitu bahagia, Mba Fatma dan Halimah pun menjadi sasaran senyum manisku hari ini.
“Hayooo ada yang seneng ini” Celetuk Mba Fatma meledek.
“Iyo mba, ga cerita-cerita lagi nih” Sahut Halimah segera.
“Hehe, ngomngin aku toh ?” Sahutku lugu.
“Ya iya adik manis, mumpung lagi ada di depannya, dari pada udah di belakangnya nanti dosa nih” Sahut Mba Fatma yang sudah tertular senyumku.
“Ah Mba bisa aja, aku dapet kerja paruh waktu Alhamdulillah buat bantu-bantu Ummi” Jelasku dengan senyum yang sedikit mengkerut.
“Ohiya Ra, jadi kan balikin buku ke perpustakaan Hari ini ?” Celetuk Halimah tiba-tiba.
“Jadi dong, makanya aku agak buru-buru biar gak kesiangan” Sahutku.

            Aku mengembalikan buku perpustakaan hari ini. Jika aku  mulai pekerjaan paruh waktuku, pasti tak sempat lagi aku membaca ria di tempat ini. Semoga waktu mempertemukan kembali dengan perpustakaan ini. Seperti biasa aku selalu meminjam kembali buku untuk bacaan ringanku karena aku tidak bisa mengunjungi tempat ini lagi bukan berarti aku berhenti membaca.
“Ra, berarti kalo kamu kerja paruh waktu ga bisa mampir lagi dong ke sini” Celetuk Halimah.
“Iya Mah jadi kangen aku nanti baca buku di sini.” Gumamku.
Aku menghabiskan 2 jam untuk membaca dan memilah-milah buku, aku meminjam 5 buku untuk 5 hari ku baca, Halimah sampai tercengang karena aku meminjam buku sebanyak ini, aku hanya tertawa kecil melihatnya.

            Setelah aku registrasi peminjaman buku aku segera menuju masjid, karena Azan Dzuhur telah berkumandang. Aku mengambil wudhu kemudian menyegerakan sholat bersama Halimah. Setelah aku sholat terlihat dua orang wanita tengah berbincang dengan suara yang agak kuat dan tegas.
“Ngapain lu sholat, kerudung aja jarang dipake, buat apa ? percuma” Bentak seorang gadis yang memakai jilbab ungu.
“Ya kan gua orang islam, emang salah kalo gua mau kerudungin hati dulu baru kepala gua ?” Sahut gadis dengan rambut ikal yang menjuntai sebahu.
“Kerudungin hati apaan, mana bisa ?” Sahut gadis berkerudung ungu.
“Ya daripada, Si Dinda pake kerudung tapi masih aja tuh malemnya ke klub malam” Bentak gadis berambut sepundak.
Mereka terus saja meributkan hijab bahkan menggibahkan temannya dan mengkambing hitamkan hijab pula. Aku dan Halimah sangat risih mendengarnya saat kami tengah berdoa, membuat doa kami tidak khusyuk.

            Sekian menit mereka bertengkar dan sekarang wanita yang tidak memakai kerudung menarik kerudung temannya, Aku langsung menghampiri dan menegur dengan teguran lembut.
“Assalamualaikum, ukhti ada apa ini ribut-ribut ?” Tanyaku.
“Nih, orang ini, orang sholat malah di larang, bukannya pake kerudung atau belum boleh-boleh aja kan sholat?” Sahut wanita tanpa kerudung itu.
“Afwan, bukannya saya menggurui anti  sekalian, boleh kok, sholat walaupun belum memakai hijab, asalkan saat sholat anti memakai mukena” Sahutku.
“Tapi masa dia mau jilbabin hati dulu baru jilbabin kepala, emang bisa?”  Tanya wanita itu sambil membenarkan kerudung ungunya.
“Setau saya tidak ada tuh menghijabkan hati, memangnya anti mau operasi dulu terus hatinya di kasih hijab ? hehe, Seaandainya anti memakai hijab tentu anti memiliki batas prilaku kan, Jadi ngga perlu toh hijabin hati dulu, seandainya anti berhijab, perubahan itu akan datang dengan sendirinya” Jelasku.     
Wanita tanpa hijab itu terdiam sejenak. Dan wanita dengan kerudung ungu itu tersenyum puas.

            “Tapi kan ada juga yang berhijab eh tapi kelakuannya masih aja brandal, percuma kan pake hijab, terus juga hijabnya di copot pakai begitu” Tanya Wanita tanpa hijab itu.
“Bismillah, kalau prilakunya masih berandal ya jangan salahkan hijabnya, salahkan prilakunya, kalau hijabnya di copot pakai begitu ya doakan saja yang baik-baik bukan malah di gibahkan, bahkan itu lebih baik daripada yang tidak pakai sama sekali” Sahutku.
“Berarti yang pakai hijab copot pakai itu baik juga ?” Tanya Wanita dengan jilbab ungu itu.
“Bukan begitu maksud Ana, seandainya uang bulanan anti hanya di beri setengah oleh orang tua anti, sikap anti akan bagaimana ?” Tanyaku.
“Jelas gue marah lah, ya gila aja, apa-apa mahal kali, ga niat apa nguliahin anak?” Sahut gadis itu.
“Nah, seperti itu, Allah pun ga suka sama yang setengah-setengah, apa anti ga niat berhijab ? Anti mendapat pahala dengan mengenakan hijab dan berdosa karena melepas hijab” Jelasku.
Wanita itu terdiam, mendengar kata-kataku.
“Tapi saya belum siap untuk berhijab” Sahut wanita yang tak berhijab.
“Kapan anti siap? Apakah kematian datang setelah anti siap ?” Sahutku.
Kedua wanita itu diam terpaku menatap alas masjid ini. Aku pun terdiam sejenak lalu mengucapkan salam kemudian pergi bersama Halimah.

            Aku akhirnya kembali ke kamarku, ku dapatkan Ummi Aminah duduk di kasurku sembari membaca majalah untuk ibu-ibu.
“Assalamualaikum Ummi Aminah, tumben berkunjung” Sapaku.
“Waalaikumsalam Aira, bagaimana kuliahmu ? lancar ?” Tanya beliau yang aku yakini sebagai basa-basi.
“Alhamdulillah Ummi, ada apa ya ?” Tanyaku.
“Anu nak, Maaf sekali sebelumnya, Ummi mau menagih uang sewa mu” Jelas beliau.
Aku terdiam terpaku pada lantai kamarku, Terngiang ucapan Ummi yang mengatakan bahwa Abi telah di PHK dan uang kuliah hanya tersisa untuk satu semester kedepan, aku tersadar bahwa kafetaria tidak akan mencukupi keuanganku. Aku mendongak dan menghadapkan wajahku pada Ummi Aminah.
“Akan Aira tanya sama Ummi, Insya Allah segera Aira bayar” Sahutku.
“Baik, terima kasih Aira, maafkan Ummi ya” Celetuk Ummi Aminah yang merasa bersalah terhadapku.

Dengan berat hati aku menelfon Ummi ku, terdengar suara beliau yang begitu lembut dan tegar. Aku semakin tak tega untuk bilang padanya, untuk bulan ini biar Ummi yang biayai, bulan depan harus aku yang bayar. Aku menjelaskan apa yang Ummi Aminah tadi katakan, kemudian Beliau dengan segera mengirimkan uang sewanya. Tak lama telfon ku berdering, tertulis disana Hasan Abdullah. Apa aku tak usah angkat ?

Alhamdulillah, bisa upload lagii, maaf yaaa pembaca aku baru sellesai ukk hiks.. hiks.. Insya Allah segera ending >.< Wassalamualaikum ^-^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar